BREAKING

Dari Rugi Ratusan Juta ke Cuan Digital, Petani Purworejo Bangun Sekolah Tani di TikTok

Muhamad Ansori2 menit baca67 views
Dari Rugi Ratusan Juta ke Cuan Digital, Petani Purworejo Bangun Sekolah Tani di TikTok
Dwi Setiyo Rahadi saat memberikan pelatihan videografi berbasis konten pertanian digital kepada mahasiswa UMPWR di Kecamatan Grabag, Purworejo.

Grabag, (purworejo.sorot.co)-Kerugian ratusan juta rupiah di sektor pertanian tak membuat Dwi Setiyo Rahadi menyerah. Dari titik terendah, ia bangkit dengan menggabungkan pertanian dan dunia digital melalui akun TikTok Hore Farm, yang kini menjadi ruang belajar sekaligus peluang ekonomi.

Kisah tersebut dibagikan kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) dalam pelatihan videografi di Kecamatan Grabag, Jumat (01/05/2026). Kegiatan ini diikuti mahasiswa Pendidikan Matematika angkatan 2024 bersama UKM Sains dan Teknologi, dengan pendampingan dosen Isnaeni Maryam, M.Pd.

Berbeda dari pelatihan videografi pada umumnya, kegiatan ini menekankan pada pembuatan konten bernilai ekonomi. Mahasiswa diajak memahami bahwa media sosial bisa menjadi alat bertahan dan berkembang di era digital.

Dwi memperkenalkan konsep Fakultas Pertanian Terbuka melalui akun TikTok @horefarm24, dengan konten seputar praktik pertanian modern, mulai dari penggunaan fungisida hingga teknologi drone sprayer.

“Konten bukan hanya soal viral, tapi bagaimana bisa memberi manfaat dan menghasilkan,” kata Dwi.

Ia menegaskan, kegagalan yang pernah dialami justru menjadi titik balik untuk berinovasi. Pendekatan kreatif melalui media sosial dinilai mampu membuka peluang baru di tengah tantangan sektor pertanian.

Sementara itu, dosen pendamping, Isnaeni Maryam, menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Mahasiswa tidak hanya belajar membuat video, tetapi juga memahami bagaimana ide, kreativitas, dan teknologi bisa dikolaborasikan menjadi peluang nyata,” ungkapnya.

Kegiatan ini memberi perspektif baru bahwa bertani di era digital tidak hanya soal produksi, tetapi juga inovasi dan adaptasi dari sawah hingga layar ponsel.

Bagikan:

Berita Terkait