BREAKING

Swadaya Pedagang, Plataran Senopati Disiapkan UMKM Jogja Usai Penutupan Bus Wisata

Anam Achmad2 menit baca35 views
Swadaya Pedagang, Plataran Senopati Disiapkan UMKM Jogja Usai Penutupan Bus Wisata
Dokumentasi sorot.co

Gondomanan (jogja.sorot.co) - Upaya bertahan di tengah perubahan kebijakan kawasan wisata mendorong para pedagang di kawasan Parkir Senopati Yogyakarta berinovasi.



Mereka kini menghadirkan destinasi baru bertajuk Plataran Senopati, sebuah sentra angkringan kolektif yang digagas sebagai solusi keberlangsungan ekonomi komunitas.



Koordinator pelaksana, Andi Erwanto, mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari penataan kawasan Alun-Alun Utara Yogyakarta, sesuai arahan Wali Kota.



“Kami belajar ke Alun-Alun Utara, melihat bagaimana Pendopo Lawas itu berkembang. Kami dibimbing teman-teman di sana, lalu mencoba menerapkan konsep serupa di sini,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026) sore.



Latar belakang lahirnya Plataran Senopati tidak lepas dari kebijakan penutupan akses bus wisata di kawasan tersebut. Dampaknya, pendapatan pedagang, juru parkir, hingga pelaku usaha kecil turun drastis.



“Waktu bus tidak boleh masuk, otomatis pendapatan teman-teman nol. Kami kemudian audiensi dengan Wali Kota dan diminta mencari konsep baru, akhirnya lahirlah ini,” jelas Andi.



Modal pembangunan pun berasal dari swadaya komunitas. Sebanyak 68 orang urunan Rp1,5 juta hingga terkumpul sekitar Rp102 juta.



“Semua murni dari iuran teman-teman. Untuk gerobak, lampu, sampai perlengkapan dapur,” tambahnya.



Saat ini, tercatat 33 pedagang lapak, 20 pedagang asongan, dan 15 juru parkir terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut.



Plataran Senopati mengusung konsep “dapur bersih”, di mana tidak ada aktivitas memasak berat di lokasi. Produk makanan berasal dari titipan para UMKM, terutama eks pedagang Senopati.



“Kita tidak masak di sini, hanya air saja. Makanan semua titipan UMKM. Jadi ini bentuk pemberdayaan,” kata Andi.



Menu yang disajikan pun khas angkringan Yogyakarta, mulai dari nasi kucing, sate usus, sate telur, hingga minuman tradisional seperti wedang jahe dan ronde.



Untuk menjaga transparansi, seluruh harga sudah dicantumkan dalam daftar menu guna mencegah praktik “nuthuk”.



“Harga sudah tertera semua, sama rata, jadi aman,” tegasnya.



Dengan lokasi strategis di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Plataran Senopati diharapkan menjadi destinasi wisata baru di pusat kota.



“Ini jantung kota, dekat Malioboro, Sonobudoyo, Keraton. Harapannya bisa jadi tujuan wisata baru,” ujar Andi.



Ia juga optimistis konsep ini mampu menghidupi kembali banyak orang yang sebelumnya terdampak.



“Saya menghidupi banyak orang di sini, jadi harapannya bisa berkembang dan ramai,” imbuhnya.



Ketua Koperasi Senopati, Harjito, menyebut keberadaan Plataran menjadi titik balik bagi komunitas yang sempat terpuruk.



“Dampaknya besar, ada sekitar 1.500 orang yang terdampak kalau dihitung dengan keluarga. Dengan ini kami berharap ekonomi bisa bergerak lagi,” katanya.



Menurutnya, lokasi yang berada di pusat kota menjadi peluang besar untuk menarik pengunjung.



“Insya Allah bisa ramai. Ini masih uji coba, tapi kami optimistis,” tandasnya.

Bagikan:

Berita Terkait