Tulung, (klaten.sorot.co)-- Pendataan terhadap siswa yang mengalami gejala mual hingga diare karena diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP N 1 Tulung, Klaten terus dilakukan. Tak hanya siswa, belasan guru ternyata juga ikut merasakan gejala yang sama.
Hal itu disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, SMP N 1 Tulung, Kris Hadiana. Pihaknya mengungkapkan jumlah keseluruhan siswa di SMP N 1 Tulung yang mendapat program MBG sebanyak 668 orang terdiri dari kelas 7, 8 dan 9.
"Sementara untuk data terakhir sampai pukul 10.00 WIB, ada 225 siswa yang dilaporkan mengalami gejala. Yang dirawat ada 11 anak, dan sebagian besar lainnya rawat jalan," kata dia.
Tak hanya siswa, ternyata sedikitnya ada 18 guru juga mengalami gejala sama. Gejala yang paling banyak dirasakan adalah mual dan sakit perut. Namun ada juga sebagian anak yang mengalami gejala cukup parah yakni sampai muntah dan diare.
"Guru ada 18 orang, gejalanya sama. Sudah dapat penanganan medis, dan bisa rawat jalan," imbuhnya.
Pihaknya mengungkapkan tidak mengetahui secara pasti penyebab para siswa dan guru ini mengalami gejala sakit. Disinggung apakah disebabkan oleh MBG, ia belum bisa memastikan. Sebab efek dari sakit ini baru terasa pada sore harinya.
"Pas MBG itu tiba ke sekolah sekilas secara pandangan mata tidak ada yang aneh, ya seperti biasanya. Guru juga kena, karena saat itu juga makan menu MBG, tapi efeknya rata-rata terasa saat sore," imbuhnya.
Ia memastikan aktivitas belajar mengajar di sekolah masih berjalan seperti biasa, namun pada hari ini hampir 30 persen siswa tidak masuk. Selain itu, sejumlah guru juga masih fokus melakukan pendampingan terhadap siswa yang rawat jalan di fasilitas kesehatan.
Sebelumnya, ratusan siswa SMP dan SD di Kecamatan Tulung, Klaten dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan lantaran mendadak mengalami gejala mual, diare hingga muntah. Mereka diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan pantauan di Puskesmas Majegan, Tulung pada, Rabu (29/04/2026) pagi, sejumlah siswa silih berganti berdatangan dengan diantar oleh orang tuanya. Beberapa guru juga terlihat mendampingi hingga para siswa mendapat pelayanan kesehatan.




